KALTENGOKE.COM – Kemajuan teknologi informasi (TI) telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Di bidang pendidikan, teknologi memungkinkan penyelenggaraan pembelajaran berbasis e-learning sehingga peserta didik tidak harus hadir secara fisik di ruang kelas. Proses belajar-mengajar kini dapat dilakukan secara daring melalui berbagai platform seperti Zoom Meeting dan Google Meet.
Di sektor pelayanan publik, pemanfaatan teknologi informasi juga semakin luas, mulai dari pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) secara daring, pembayaran pajak kendaraan bermotor, hingga aktivitas jual beli yang kini banyak dilakukan secara online. Teknologi membuat berbagai pekerjaan menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien.
Namun di balik berbagai manfaat tersebut, kemajuan teknologi juga melahirkan tantangan serius bagi masyarakat. Dunia bergerak begitu cepat, sementara tidak semua orang memiliki kesiapan dan kemampuan untuk mengikutinya. Akibatnya, sebagian masyarakat justru tertinggal dan menjadi korban. Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan kasus seorang ibu yang tidak dapat membeli roti karena gerai penjual hanya menerima pembayaran non-tunai, sementara yang bersangkutan tidak memiliki akses ke transaksi digital.
Selain itu, kemudahan penyebaran informasi melalui media sosial memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, melaporkan peristiwa penting, dan mendorong respons cepat dari pihak terkait. Namun di saat yang sama, media sosial juga menjadi ruang subur bagi beredarnya hoaks, disinformasi, fitnah, ujaran kebencian, pornografi, hingga berbagai modus penipuan.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPR/MPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Papua Pegunungan, Arif Riyanto Uopdana, dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada pemuda dan mahasiswa di Jayapura. Kegiatan tersebut dikemas dalam format diskusi santai agar mudah dipahami dan mendorong partisipasi aktif peserta.
Arif menekankan pentingnya meningkatkan literasi dan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi arus informasi yang begitu deras, terutama di media sosial.
“Kita sedang memasuki era banjir informasi. Namanya banjir, kalau kita tidak pandai berenang, kita bisa digulung. Banjir informasi ini mengandung banyak sampah, mulai dari disinformasi, fitnah, ujaran kebencian, hingga konten negatif lainnya,” ujar Arif.
Ia mengingatkan bahwa hoaks dan provokasi kerap disebarluaskan tanpa verifikasi, sehingga mudah memengaruhi opini dan emosi masyarakat.
“Saya mengajak teman-teman untuk selalu saring sebelum sharing. Kritisi dulu informasinya, jangan asal membagikan konten yang tidak jelas sumber dan kebenarannya,” tegasnya.
Arif juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya deepfake, yang berpotensi disalahgunakan untuk membuat konten manipulatif. Menurutnya, konten semacam itu dapat menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah dan institusi negara karena masyarakat semakin sulit membedakan mana informasi yang asli dan mana yang palsu.
“Bayangkan jika ada video tokoh tertentu menyampaikan pesan provokatif, padahal itu hasil rekayasa AI. Ini sangat berbahaya karena bisa memicu perpecahan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arif menilai penyalahgunaan teknologi seperti deepfake dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) apabila tidak diantisipasi dengan baik. Disinformasi dan manipulasi opini publik berpotensi memicu polarisasi politik, konflik sosial, hingga gangguan stabilitas keamanan nasional.
Oleh karena itu, ia mengajak pemuda dan mahasiswa untuk terus meningkatkan pengetahuan serta literasi teknologi informasi, sekaligus berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih cerdas dan bijak dalam menyikapi informasi di ruang digital. (red1)
