KALTENGOKE.COM – Petani masih menjadi profesi terbanyak di Indonesia, meskipun dalam satu dekade terakhir jumlahnya terus mengalami penurunan. Generasi muda dinilai semakin enggan menekuni sektor pertanian karena dianggap kurang menjanjikan, meski tidak sedikit pula petani yang berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, tercatat lebih dari 27 juta rumah tangga petani di Indonesia, namun jumlah tenaga kerja di sektor ini terus menurun dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Di Papua Pegunungan, pertanian menjadi sumber utama penghidupan masyarakat. Mayoritas rumah tangga menggantungkan hidup dari pertanian subsisten dengan menanam ubi jalar, keladi, jagung, dan berbagai jenis sayuran secara berpindah. Bagi masyarakat setempat, pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga bagian dari budaya dan identitas sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Pegunungan menunjukkan sektor pertanian menjadi penopang utama ketahanan pangan dan ekonomi lokal di wilayah tersebut.
Dalam konteks Pancasila, khususnya sila kelima “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, kondisi pertanian di Papua Pegunungan mencerminkan perjuangan menghadirkan kesejahteraan yang merata di tengah tantangan geografis dan keterisolasian wilayah. Keadilan sosial di bidang pertanian berarti memastikan masyarakat memiliki akses yang setara terhadap sumber daya, teknologi, serta pasar.
Upaya pemerataan pembangunan pertanian, seperti penyediaan bibit unggul, alat pertanian, infrastruktur jalan menuju ladang, hingga fasilitas penyimpanan hasil panen, menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin hak ekonomi masyarakat. Dengan dukungan tersebut, pertanian tidak hanya menjadi sarana bertahan hidup, tetapi juga pintu masuk peningkatan kualitas hidup petani.
Hal inilah yang menjadi perhatian Anggota DPR/MPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Papua Pegunungan, Arif Riyanto Uopdana, ST. Sejak mendapat amanah di Senayan, Arif aktif mendorong petani di Kabupaten Pegunungan Bintang, khususnya di Kampung Yumakot, untuk mengorganisir diri melalui pembentukan kelompok tani.
Arif juga memfasilitasi kelompok tani agar dapat mengakses bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN. Kelompok Tani Nematara Yumakot pun menerima bantuan alat pertanian dari Pertamina.
Dalam pertemuannya dengan para petani, Arif berpesan agar bantuan tersebut dimanfaatkan dan dirawat dengan baik guna meningkatkan produktivitas pertanian.
“Kita sudah mendapat bantuan alat-alat pertanian. Harap digunakan dengan baik dan dipelihara supaya tidak rusak. Jika produksi meningkat, kesejahteraan kita juga akan meningkat. Ini adalah aspirasi kita bersama, dan puji Tuhan ada program BUMN yang bisa disalurkan. Inilah pelaksanaan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya sila kelima tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk petani di Yumakot. Tetaplah menjaga persatuan,” ujar Arif.
Selain menyerahkan bantuan, Arif juga menyampaikan materi Empat Pilar Kebangsaan kepada para petani dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika akan lebih mudah dimengerti masyarakat pedalaman Papua Pegunungan apabila diwujudkan melalui tindakan nyata yang langsung dirasakan manfaatnya.
“Bahasa yang paling mudah dipahami masyarakat adalah tindakan nyata. Ketika negara hadir membantu rakyat keluar dari kesulitan, di situlah nilai Empat Pilar Kebangsaan benar-benar hidup,” pungkasnya. (red1)
